Jumat, 29 Februari 2008

Peninggalan peninggalan bersejarah diKab.Bogor

PENINGGALAN-PENINGGALAN BERSEJARAH  DI KAB.BOGOR

Goa Gudawang:

Goa ini merupakan rangkaian Goa yang sangat unik dan menarik.

Nama gudawang berasal dari kata “Kuda Lawang” yang artinya buntut/ekor kuda yang di kepang. Dikawasan ini terdapat 12 goa,tapi hanya tiga yang sudah di kembangkan atau di kelola dan di buka untuk umum yaitu, Goa Simenteng, Goa Simasikit, dan Goa sipahang.

(Sumber : Dinas Budpar Kab.Bogor)

Prasasti Batu Tulis:

Prasasti Batu Tulis yang terletak di Jl. Batutulis No. 54, Bogor ini merupakan peninggalan zaman Kerajaan Pajajaran dan bertuliskan huruf kawi Bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini dibuat oleh seorang putera Raja Pajajaran yaitu Raja Surawisesa. Dahulu Prasasti ini adalah tempat untuk melakukan upacara penobatan Raja-raja Pajajaran dibawah kekuasaan Prabu Siliwangi. (Sumber : kotabogor)

Batu Tulis Ciaruten:

Kabupaten Bogor banyak memiliki kekayaan pariwisata, salah satunya wisata sejarah yang banyak terdapat di daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bogor, Seperti di Daerah Tujuan Wisata Bogor Barat yang mempunyai banyak kekayaan seni dan budaya. Wisata sejarah yang ada di antaranya merupakan peninggalan zaman prasejarah, yaitu Batu Tulis Ciaruteun. Terletak di tepi sungai Ciaruteun perbatasan Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Cibungbulang.
Pada lokasi Batu Tulis Ciaruteun ini terdapat pula peninggalan sejarah lainnya seperti: Prasasti Kebon Kopi I, yang terdapat telapak kaki gajah Airwata, sebagai kendaraan Raja Purnawarman, lalu Prasasti Kebon Kopi II, yang letaknya berada di sungai dan terdapat tulisan bahasa sansekerta berhuruf pallawa. Ada juga peninggalan sejarah lainnya seperti: Batu Dakon, Prasasti Jambu, Garisul dan Kampung Adat Urug yang merupakan kekayaan Kabupaten Bogor yang tak ternilai harganya.
Situs Batu Tapak:

Situs Batu Tapak merupakan peninggalan jaman Raja Mahawarman. Di puncak bukit terdapat batu ampar yang besarnya 2 x 2 m. Dari sini bisa melihat keindahan pemandangan di sekitar, seperti hamparan sawah dan kali Cipamingkis. Situs ini berlokasi di Kp. Bojong Honje Desa Pabuaran, Kecamatan Suka Makmur.
Prasasti Batu Tulis:

Prasasti ini disebut demikian karena merupakan batu berisi tulisan berjumlah 8 1/2 baris. Prasasti ini dibuat oleh Prabu Surawisesa putera Sri Baduga dalam Tahun 1533 M.
Prasasti Ciaruten:

Prasasti ini bergambar sepasang padatala (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan yang berfungsi mirip "tanda tangan" seperti jaman sekarang
Prasasti Pasir Koleangkak/Prasasti Jambu :

Prasasti ini berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi
Prasasti Pintu Bendungan:

Batu besar ini terdapat pada aliran Ciliwung di dekat Pasar Gembrong. menurut Suhamir pada lokasi belakang Pasar Sukasari pada aliran Ciliwung di bagian inilah dahulu letak "hulu leuwi" (pangkal lubuk) sipatahunan.

Prasasti Kebon Kopi:

Prasasti ini bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi yang artinya : kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Patung Purwa Galih:

Penduduk menyebutnya patung Embah Purwa Galih. Patung "nenek moyang" ini banyak ditemukan di kawasan Jawa Barat.
Prasasti Batu Congkrang:

Batu ini terletak di tepi Jl. Batutulis dekat persimpangan Gang Balekambang merupakan saksi keperubakalaan bahwa sejak ratusan tahun sebelum masehi ditempat itu sudah ada pemukiman manusia
Prasasti Batu Lingga:

Batu ini dipancangkan sebagai tanda kekuasaan Sri Baduga

Padatala:

Padatala di depan prasasti Batu Tulis : Merupakan cap telapak kaki yang diletakkan tepat di depan batu prasasti, sebagai tanda "kehadiran" Surawisesa sebagai pembuat prasasti untuk sakakala terhadap ayahnya.
Tangga Batu :

Tangga Batu ini adalah peninggalan masa silam yang tetap dimanfaatkan dengan beberapa perbaikan
Budaya - Prasasti Jambu
Sepasang tapak kaki (pendala) yang tercetak pada Prasasti Jambu

Budaya - Prasasti Jambu
Batu penunjuk jarak tempuh kelokasi Prasasti Jambu. Dari batu ini pengunjung harus berjalan lurus melewati batu tersebut, bukan belok ke arah kanan

Budaya - Prasasti Jambu
Pemandangan alam sekitar objek wisata

Budaya - Prasasti Jambu
Huruf Palawa dengan Bahasa Sansekerta yang berisi dua baris puisi/pujaan terhadap Raja Purnawarman

Budaya - Prasasti Jambu
Batu asah, konon batu ini digunakan untuk mengasah peralatan perang/pedang Raja Purnawarman

Sejarah Penemuan Batutulis

Berawal dari perjalanan iseng menuju lokasi tambang emas di daerah Pongkor, sepulang dari objek wisata Gua Gedawang, penulis tanpa sengaja membaca papan penunjuk objek wisata Prasasti Batutulis Jambu. Dari literatur yang pernah penulis baca, memang ada petunjuk bahwa terdapat prasasti lain peninggalan kerajaan Tarumanegara yang berkaitan erat dengan Prasasti Ciaruteun. Hanya saja lokasi dimana objek prasasti itu sebenarnya berada masih dalam tanda tanya besar karena minimnya informasi. Untunglah dalam perjalanan kali ini berhasil menemukan petunjuk akan keberadaan lokasi prasasti tersebut, terlebih jarak yang tercantum menyatakan angka 700 meter, suatu jarak yang tidaklah jauh.

Sempat bingung untuk memarkirkan mobil mengingat tidak adanya areal parkir, dan jalan yang akan dilalui langsung berupa gang kecil diantara pemukiman penduduk. Akhirnya diputuskan untuk memarkirkan mobil ditepi jalan utama, dan aktivitas perjalanan menuju lokasipun segera dimulai.

Awal perjalanan dimulai dari gang kecil diantara rumah penduduk, kemudian beralih ke areal perkebunan dan sawah. Sering bertanya kepada penduduk setempat akan letak prasasti perlu dilakukan, karena praktis tidak ada lagi penunjuk arah. Untungnya meskipun terkadang berjalan di antara pepohonan, signal GPS masih cukup kuat sehingga bisa dilakukan track record terhadap jalan yang telah dilalui.

Sempat terkejut pula setelah bertanya dimana lokasi prasasti tersebut, seorang ibu petani menunjukkan suatu bangunan yang cukup jauh letaknya dipuncak bukit. Kepalang basah, perjalanan sudah dilakukan maka tidak ada istilah kembali, kecuali setelah sampai ditempat tujuan. Perjalananpun dilanjutkan dan kontur jalan mulai berubah menanjak setiba dikaki bukit. Meskipun sempat tersesat di kebun rumput gajah penduduk, namun akhirnya berhasil juga mencapai tujuan dengan sedikit terengah-engah.

Prasasti Jambu terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Hal yang menggembirakan adalah adanya proses renovasi yang hampir selesai dilokasi tersebut sehingga areal sekitar prasasti terlihat rapi dan tidak ada sampah seperti yang acapkali kita lihat di objek-objek wisata lainnya. Panorama perbukitan dengan hembusan angin dan udara yang sejuk, cukup menjadikan objek wisata ini terasa nyaman dikunjungi.

Sentral objek wisata ini berupa sepasang tapak kaki yang tercetak pada sebuah batu dengan dua baris huruf Palawa, mirip sekali dengan Prasasti Ciaruteun. Bedanya, batu yang digunakan pada Prassasti Ciaruteun adalah batu kali/sungai berwarna hitam sedangkan Prasasti Jambu menggunakan jenis batu yang mirip batuan andesit namun berwarna putih kecoklat-coklatan. Hali lain, asal mula Prasasti Jambu memang terletak di puncak bukit, sedangkan Prasasti Ciaruteun berada di pinggir sungai yang kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi.

Adapun dua baris prasasti yang tercetak di batu tersebut berbunyi:

"shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam".

Dengan terjemahan menurut Vogel :

"Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya".

Smua ini kami dapatkan pada wesite:www.navigasi.net

Tidak ada komentar: